Jesus Christ

Tuesday, 10 April 2012

Iman Kristen

Dalam Alkitab jelas sekali Allah menyatakan dirinya dalam 2 penyataan, yaitu penyataan umun (alam) dan penyataan khusus (firman).

Penyataan alam sebelum adam berdosa sesungguhnya sempurna adanya. Melalui alam, manusia dapat mengenal Allah dengan jernih, karena alam menjadi cermin yang jernih untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Maz.19:2-3 dengan jelas menyatakan hal tersebut.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan berita itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar”

Penyataan khusus (firman) juga diberikan kepada Adam agar mengerti apa tugas yang harus Adam lakukan.

Adam dicipta untuk mempermuliakan Allah melalui ketaatannya. Penyataan alam secara lengkap dan jernih menyatakan Allah, penyataan Khusus diberikan setara dengan penyataan alam untuk “menuntut” ketaatan Adam sebagai mahluk ciptaan Allah.

Setelah Adam jatuh kedalam dosa, maka penyataan Allah masih menyatakan keberadaan Allah, tapi bukan hanya kasih dan kebaikan Allah, namun juga murka Allah.

Firman Allah juga sebagai penyataan khusus, untuk mengembalikan manusia kepada ketaatan semua melalui jasa Kristus di kayu salib, menyatakan kasih dan kesabaran Allah tapi penyataan khusus (firman) juga sekarang menyatakan murka Allah atas orang berdosa. Taurat diberikan sebagai rontgent agar manusia mengerti hukuman Allah yang menimpa diri manusia yang sadar (taurat) sudah berdosa dan layak dihukum.

Penyataan alam cukup jelas bahkan sangat jelas menyatakan siapa Allah yang sesungguhnya, tetapi sekali lagi, dosa, mengakibatkan manusia secara aktif melawan kebenaran.

Roma 1:18

Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman.

Saturday, 7 April 2012

Opini Tentang Puasa

Alkitab tidak memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik, berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan penting (Kisah Rasul 13:4; 14:23). Doa dan puasa sering dihubungkan bersama (Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.

Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apapun yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara demi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dengan cara yang lebih baik dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5). Puasa perlu dibatasi waktunya, khususnya puasa makanan. Tidak makan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak tubuh. Puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam dengan Allah. Benar, siapa saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat untuk sementara meninggalkan sesuatu demi untuk memfokuskan diri pada Tuhan.

Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara untuk membuat Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Puasa mengubah kita, bukan Tuhan. Puasa bukanlah cara untuk kelihatan lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan dengan penuh sukacita. Matius 6:16-18 mengatakan, “"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Jumat Agung (Situs Wikipedia )

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.
Hari kematian itu sendiri tidak dicatat jelas di Alkitab. Ada yang menduga jatuh pada hari Rabu, tetapi lebih banyak yang menempatkan pada hari Jumat. Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jumat, namun tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi, oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.[1][2][3][4][5][6]
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Dalam Alkitab
1.1 Yesus di hadapan Mahkamah Agama
1.2 Yesus di hadapan Pilatus
1.3 Yesus disiksa dan diolok-olok
1.4 Yesus disalibkan
1.5 Yesus mati
2 Perhitungan Tanggal Jumat Agung
3 Lihat pula
4 Referensi
5 Pranala luar

[sunting] Dalam Alkitab
[sunting] Yesus di hadapan Mahkamah Agama
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pengadilan Yesus

Setelah sebelumnya mengadakan Perjamuan Malam (Matius 26:17-25, Markus 14:12-25, Lukas 22:7-23, Yohanes 13:21-30), Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya pergi ke Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa.
Setelah Yesus berdoa, maka datanglah Yudas, "dan bersama-sama serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi" Matius 26:47. Yesus lalu dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, di depan Imam Besar Kayafas.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"
—Matius 26:59-68


Sementara itu Petrus yang mengikuti hingga di halaman Mahkamah Agama dikenali sebagai pengikut Yesus namun ia menyangkal tiga kali, dan pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus yang teringat apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26:75
[sunting] Yesus di hadapan Pilatus
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pengadilan Yesus

Karena yang berhak menghukum mati seseorang hanyalah pemerintah Romawi, maka Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus.

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. ... Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
—Matius 27:11-14, 23-26

[sunting] Yesus disiksa dan diolok-olok
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kematian Yesus

Setelah Yesus divonis hukuman salib oleh Pontius Pilatus, Yesus disiksa terlebih dahulu seperti yang umum dilakukan pada zaman Romawi.[7]

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.
—Matius 27:27-31

[sunting] Yesus disalibkan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kematian Yesus

Setelah disesah, maka Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi." Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.
—Matius 27:35-44

[sunting] Yesus mati
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kematian Yesus

Yesus pun mati di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya.

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."
—Matius 27:50-54

[sunting] Perhitungan Tanggal Jumat Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat (lihat Computus untuk penjelasan lebih rinci). Paskah jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox. Perhitungan Barat menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan Kalender Julian, di mana tanggal 21 Maret-nya kini bertepatan dengan tanggal 3 April menurut kalender Gregorian. Perhitungan-perhitungan untuk menentukan tanggal bulan purnama tersebut juga berbeda. Lihat Metode Penentuan Tanggal Paskah (Astronomical Society of South Australia).
Karena Paskah di Gereja Barat dapat jatuh pada salah satu tanggal mulai tanggal 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Gregorian, maka Jumat Agung dapat jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Dalam Gereja Timur, Paskah dapat jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (antara 4 April dan 8 Mei menurut kalender Gregorian, untuk periode 1900 dan 2099), jadi Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April dan 5 Mei menurut kalender Gregorian).

Renungan Makna Natal

Renungan Misi / Makna Natal
Makna Natal

Apakah makna Natal bagi kita umat Tuhan yang masih diberi-Nya kehidupan dan kesempatan untuk menikmati anugerah dan berkat-Nya hingga kini, di akhir tahun 2010 ini? Dari tahun ke tahun Natal dirayakan, banyak uang dibelanjakan untuk menghiasi gereja, rumah, bahkan jalan-jalan di kota-kota. Namun ada satu hal yang seringkali kita lupakan, yaitu menghiasi diri kita sendiri (1 Petrus 3:3-4 -- "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak dapat binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram dan berharga dimata Allah").

Seringkali, pada bulan Natal seperti ini kita disibukkan dengan segala macam kegiatan atau acara yang banyak menyita waktu, tenaga, bahkan uang kita. Kita sering terjebak untuk lebih menghiasi hal-hal yang bersifat lahiriah, sementara manusia batiniah kita kering kerontang. Yesus sering kali berkata mengenai orang Farisi dan Saduki, "Bangsa ini mendekat dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku" (Matius 15:8-9). Bahkan lebih keras lagi Yesus berkata, "Sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh dengan rampasan dan kerakusan ... Sebab kamu seperti kubur yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih nampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Matius 23:25-27).

Natal adalah saat di mana kita sebagai Gereja Tuhan yang adalah mempelai Kristus, menghiasi manusia rohani kita. Apakah masih ada cacat atau noda dosa saat menyambut Kristus? Masih adakah kerut di wajah kita, dan sudah layakkah kita untuk tampil di pelaminan dalam acara pesta perkawinan Anak Domba?

Ada beberapa pesan Natal yang perlu kita renungkan bersama:

1. Natal adalah kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia secara jasmani.

Kelahiran adalah dimulainya suatu kehidupan baru di bumi. Sama seperti Yesus lahir dari Roh Kudus, sudahkah kita juga lahir dari Roh Kudus sehingga ada satu realitas kehidupan Allah bekerja dalam hidup kita. Dan kita dapat disebut Manusia ciptaan baru, di mana semua hidup yang lama telah berlalu dan kehidupan Kristus datang dan nyata dalam hidup kita (Yohanes 3:1-5 -- "Kamu harus dilahirkan kembali, apa yang dilahirkan dari roh adalah roh, apa yang dilahirkan daging adalah daging"). Pertanyaan untuk kita renungkan sebagai umat Tuhan adalah, sudahkah kita lahir dari Roh-Nya, sehingga kita dapat memulai sesuatu yang baru di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita? Kehidupan baru dimulai ketika kita mengundang Tuhan Yesus secara pribadi menjadi Juru Selamat kita.

2. Natal memberi pengharapan.

Kelahiran Tuhan Yesus di bumi memberikan suatu pengharapan baru bagi manusia yang hidup dalam perbudakan dan dijajah oleh dosa dan kematian (Matius 4:16 -- "Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit terang"). Ada sesuatu yang sedang bergerak di seluruh dunia yaitu ketakutan -- takut mati, takut sakit, takut gagal, takut akan masa depan. Dan ini yang membuat manusia semakin buas dan nekat dalam dosa dan kejahatan. Ketakutan telah membunuh lebih banyak manusia dibanding dengan yang lainnya. Ketakutan mendorong seorang ibu di New York melemparkan ketiga anaknya dari lantai 14, lalu kemudian ibu itu sendiri bunuh diri dengan terjun dari gedung itu. Tetapi Yesus datang memberi pengharapan. Harapan untuk hidup di masa depan, serta harapan untuk berhasil (Yesaya 60:1 -- "Bangkitlah menjadi teranglah, sebab terangmu sudah datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu"). Umat Tuhan bangkitlah! Biarlah terangmu memancar atasmu dan kemuliaan Tuhan bersinar lewat hidupmu, karena terang itu sudah lahir di bumi, di hati, di Gereja, di setiap orang yang membuka hati untuk-Nya.

3. Natal artinya memberi.

Natal berbicara tentang misi Bapa bagi dunia, yaitu Bapa di Surga mengutus Misionaris-Nya ke dalam dunia yaitu Yesus Kristus. Ketiga orang Majus datang hanya untuk menyembah dan memberi emas, perak, dan mur. 2000 tahun yang lalu Bapa kita menaburkan benih yang kekal yaitu Firman Allah ke dalam dunia. Benih itu telah jatuh ke dalam tanah dan mati, sehingga lewat satu benih itu lahir tuaian, yaitu seluruh umat Tuhan. Bukan cuma itu, tetapi benih itu juga menghasilkan benih lagi yaitu kita semua. Misi Bapa bagi dunia: Dia sedang mencari benih-benih yang siap jatuh ke dalam tanah dan mati (Yohanes 4:35-36 -- "Engkau berkata empat bulan lagi tiba musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai").

Sudah siapkah Gereja menuai padi yang menguning di tahun 2011? Atau lebih lagi, siapkah Gereja menjadi benih yang jatuh ke tanah dan mati? Ladang misi tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Ini adalah ladang misi yang sudah menguning. Siapkah Anda menjadi penuai di ladang misi? Atau siapkah Anda menjadi tiga orang Majus yang datang dengan persembahan emas, kemenyan, dan mur? Dibutuhkan orang-orang untuk menuai jiwa-jiwa di Indonesia, dan dibutuhkan orang-orang untuk mempersiapkan para penuai dan dana untuk mengirim para penuai ke dalam ladang tuaian.

Siapkanlah dirimu untuk tuaian yang lebih besar di tahun 2011.

Diambil dari:
Judul buletin : Suara Penuai, No.13/Edisi Desember 1996/Tahun III
Penulis artikel : Pnt. Samuel Saputra
Penerbit : Yayasan Penuai Abadi Indonesia
Halaman : 13 dan 26

Pendapat Eka Jalan Menuju Ke Surga

Jalan Menuju Ke Surga
Cerita EKA
Mamak sedang membuka-buka album foto yang berisi potongan-potongan kenangan pada saat berziarah ke Israel awal tahun lalu ketika saya datang mengunjunginya. Begitu melihat saya, sontak mamak pun jadi bersemangat dan mulai menceritakan (lagi) perjalanan ziarahnya itu dengan berapi-api. Saya tersenyum mendengarkan seluruh ceritanya, cerita lawas yang terus diulang kapan saja mamak mau. Tapi saya tidak pernah bosan mendengar ceritanya, bukan karena mamak begitu pandai bercerita sehingga saya terhibur, bukan itu. Tapi karena momen-momen mamak bercerita seperti itu adalah momen berkualitas (quality time) yang kita tidak pernah tau sampai kapankah bisa menikmati privilege itu. Usia kan tidak ada yang bisa menebak, jadi selagi bisa maka saya berusaha meladeni mamak saya walaupun (lagi-lagi) harus mendengarnya bercerita suatu hal yang telah ribuan kali kita dengar ;)

.
Setelah ratusan lembar foto dibuka dan dijabarkan ceritanya, tiba-tiba mamak pamer kalung barunya yang ia beli di Tel Aviv. “Ka, cantik kan kalung salib yang mama beli?” Sambil melirik ke kalung emas putih itu saya mengangguk tanda menyetujui pernyataannya. Namun tanpa sadar bibir ini bergumam, “Apakah kalung salib itu adalah jalan buat kita menuju ke surga?”. Ooops, sebelum mamak bingung dan membuat saya harus membelikannya berbagai macam makanan sogokan, cepat saya berkata, “Never mind mom, my mind is just wandering around.” :mrgreen:
Tapi memang pikiran saya melayang-layang. Betapa sering kita mengenakan simbol-simbol khusus seperti kalung dengan liontin salib atau menempelkan stiker bernada religius di mobil, dsb. namun kehidupan kita sendiri tidak mencerminkan Kristus. Buat saya mengenakan simbol-simbol kerohanian tersebut menuntut tanggung jawab dan teladan hidup yang besar. Jangan sampai orang lain yang melihat kita lantas memberikan stigma jelek secara general karena satu kesalahan minor yang kita perbuat. Jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi orang lain!

.
Gampangnya gini deh, saya beri contoh ya. Pasang stiker di bemper mobil bilang, Jesus is The One. Tapi cara mengemudinya ugal-ugalan hingga membuat orang berkomentar, wuiiih orang Kristen koq gitu sih, hampir bikin celaka orang lain. Nah, itu kan tidak memberi teladan. Atau mengenakan kalung salib tapi memaki-maki orang lain dengan kasar tanpa belas kasih. Itu apa gak malu sama kalung salibnya? *oh iya, yang ini curcol banget :mrgreen: * Haha.
Saya tidak anti simbol-simbol religius lho ya, tapi jujur, saya agak jiper dengan tanggung jawab yang melekat seiring pemakaian simbol-simbol religius itu. Dan selama saya merasa belum mampu maka saya memilih untuk tidak mengenakannya. Buat saya Kekristenan itu bukan sekedar simbol salib, Kekristenan itu bukan sekedar berkata “Puji Tuhan”, “Syalom”, dsb di setiap kesempatan. Kekristenan itu adalah suatu gaya hidup mempraktekkan teladan yang telah Tuhan Yesus lakukan dulu. Kekristenan itu harus terpancar dalam tingkah laku, tutur kata, dan kebiasaan sehari-hari sehingga tanpa simbol-simbol religius pun orang lain dapat merasakan damai pada saat bersama dengan kita. Dan saya masih dalam proses, masih terus belajar untukmenjadi seorang Kristiani yang benar.
Hmm tumben ya saya bisa nulis serius seperti ini ;) hehe. Tenaang saya gak kesambet koq, saya sekedar membagikan apa yang ada di hati ini. Buat sobat CE yang Kristiani, selamat memaknai Jumat Agung dan merayakan kebangkitanNya (Paskah) pada hari Minggu nanti ya.

DOA BAPA KAMI

DOA BAPA KAMI



* Matius 6:9-13


6:9 LAI Terjemahan Baru, Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu,
King James Version, After this manner therefore pray ye: Our Father which art in heaven, Hallowed be thy name.

Naskah Bahasa Asli Yunani : Textus Receptus (TR), ουτως ουν προσευχεσθε υμεις πατερ ημων ο εν τοις ουρανοις αγιασθητω το ονομα σου
Translit, HOUTÔS OUN PROSEUKHESTHE HUMEIS PATER HÊMÔN HO EN TOIS OURANOIS HAGIASTHÊTÔ TO ONOMA SOU
Ha-Berit (Terj. Ibrani),
לָכֵן כֹּה תִתְפַּלָּלוּ אָבִינוּ שֶׁבַּשָׁמַיִם יִתְקַדַּשׁ שְׁמֶךָ׃
Translit, LAKEN KOH TIT'PALALU 'AVINU SYEBASYAMAYIM YITQADASY SYEMEKHA
The Orthodox Jewish Brit Chadasha (ORTHJBC), "Therefore, when you offer tefillos, daven like this: 'AVINU SH'BASHOMAYIM YITKADASH SHMECHA."


6:10 LAI TB, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.
KJV, Thy kingdom come, Thy will be done in earth, as it is in heaven.

TR, ελθετω η βασιλεια σου γενηθητω το θελημα σου ως εν ουρανω και επι της γης
Translit, ELTHETÔ HÊ BASILEIA SOU GENÊTHÊTÔ TO THELÊMA SOU HÔS EN OURANÔ KAI EPI TÊS GÊS
Ha-Berit,
תָּבֹּא מַלְכוּתֶךָ יֵעָשֶׂה רְצוֹנְךָ כַּאֲשֶׁר בַּשָׁמַיִם גַּם בָּאָרֶץ׃
Translit, TAVO MALKHUTEKHA YE'ASEH RETSONEKHA KA'ASYER BASYAMAYIM GAM BA'ARETS
ORTHJBC, "TAVO MALCHUTECHAH YE'ASEH R'TZONECHAH K'MOH VASHOMAYIM KEN BA'ARETZ."


6:11 LAI TB, Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
KJV, Give us this day our daily bread.

TR, τον αρτον ημων τον επιουσιον δος ημιν σημερον
Translit, TON ARTON HÊMÔN TON EPIOUSION DOS HÊMIN SÊMERON
Ha-Berit,
אֶת־לֶחֶם חֻקֵּנוּ תֵּן־לָנוּ הַיּוֹם׃
Translit, 'ET LEKHEM KHUQENU TEN-LANU HAYOM
ORTHJBC, "'ES LECHEM CHUKEINU TEN LANU HAYOM."


6:12 LAI TB, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
KJV, And forgive us our debts, as we forgive our debtors.

TR, και αφες ημιν τα οφειληματα ημων ως και ημεις αφιεμεν τοις οφειλεταις ημων
Translit, KAI APHES HÊMIN TA OPHEILÊMATA HÊMÔN HÔS KAI HÊMEIS APHIEMEN TOIS OPHEILETAIS HÊMÔN
Ha-Berit,
וּמְחַל־לָנוּ עַל־חֹבוֹתֵינוּ כַּאֲשֶׁר מָחַלְנוּ גַּם־אֲנַחְנוּ לְחַיָּבֵינוּ׃
Translit, 'UMEKHAL-LANU 'AL-KHUVOTEINU KA'ASYER MAKHALENU GAM-'ANAKH'NU LEKHAYAVEINU
ORTHJBC, "U-S'LACH LANU ES CHOVOTEINU KA'ASHER SALACHNU GAM ANACHNU LACHAYAVEINU."


6:13 LAI TB, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.[/b]
KJV, And lead us not into temptation, but deliver us from evil: For thine is the kingdom, and the power, and the glory, for ever. Amen.

TR, και μη εισενεγκης ημας εις πειρασμον αλλα ρυσαι ημας απο του πονηρου οτι σου εστιν η βασιλεια και η δυναμις και η δοξα εις τους αιωνας αμην
Translit, KAI MÊ EISENEGKÊS HÊMAS EIS PEIRASMON ALLA RHUSAI HÊMAS APO TOU PONÊROU HOTI SOU ESTIN HÊ BASILEIA KAI HÊ DUNAMIS KAI HÊ DOXA EIS TOUS AIÔNAS AMÊN
Ha-Berit,
וְאַל־תְּבִיאֵנוּ לִידֵי נִסָּיוֹן כִּי אִם־תְּחַלְּצֵנוּ מִן־הָרָע ((כִּי לְךָ הַמַּמְלָכָה וְהַגְּבוּרָה וְהַתִּפְאֶרֶת לְעוֹלְמֵי עוֹלָמִים אָמֵן))׃
Translit, VE'AL-TAVI'ENU LIDEI KI 'IM-TEKHALETSENU MIN-HARA KI LEKHA HAMAM'LAKHAH VEHAGEVURAH VEHATIFEVERET LE'OL'MEI 'OLAMIM 'AMEN
ORTHJBC, "V'AL T'VIEINU LIDEY NISAYON KI IM CHALTZEINU MIN HARAH. KI L'CHAH HAMAMLACHAH V'HAGVURAH V'HATIFERET L'OLMEY OLAMIM. 'OMEIN."

7 Perkataan Terakhir Yesus Kristus di Salib

7 Perkataan Terakhir Yesus Kristus di Salib
By Cornelius



Tulisan ini didasarkan pada buku yang ditulis oleh Archbishop Fulton Sheen , Seven Words of Jesus and Mary.

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34)

Ketika Yesus berada di kayu salib ia meminta pengampunan bagi mereka yang bertanggung jawab terhadap kejahatan besar ini, dan Ia memberikan alasan bahwa mereka harus dimaafkan. Ia berkata bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Uskup Fulton Sheen berkata bahwa ketidaktahuan mereka adalah berkat yang besar bagi mereka. Kita sering mendengar bahwa anda mengetahui hidup melalui pengalaman. Hal ini benar di area perjalanan dan perjamuan yang adil, tapi tidak berlaku untuk semuanya. Kita harus menginginkan kebebasan dari pengalaman dosa sama seperti dokter yang sehat bebas dari penyakit. Pengetahuan yang menghancurkan kesatuan Adam dan Hawa dengan Allah merupakan suatu keinginan yang disorder.

Menjaga jarak yang aman dari dosa mengijinkan kita mengetahui seberapa menyeramkan dosa itu. Anda baru saaja belajar betapa kuat musuh yang dikalahkan dalam pertarungan, bukan dengan menyerah kepadanya. Jika pengetahuan dan pengalaman adalah kunci kebahagiaan dan moralitas maka kita akan menjadi orang yang paling saleh yang pernah hidup.

Penderitaan Tuhan kita begitu menakutkan karena Ia tidak berdosa. Berdosa terhadap sesuatu yang tidak terbatas membawa rasa bersalah yang tidak terbatas, tapi selagi Ia berada di salib Ia meminta agar orang yang menyalibkannya diampuni. Melalui dosa, kita juga merupakan pihak yang sama dalam Penderitaan Kristus. Kita memiliki kesempatan yang sama untuk dimaafkan. Hanya Sakramen Tobat yang memungkinkan kita dimaafkan di waktu kita “mengalami” terlalu banyak [dosa]


“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)

Perkataan Tuhan kita yang kedua adalah respon terhadap pencuri yang baik yang kata-katanya kita ucapkan saat Misa : Ingatlah aku Tuhan, ketika Engkau akan datang dalam kerajaan-Mu. Ketika kamu membandingkan pencuri yang baik dan yang buruk kamu menemukan bahwa perbedaan diantara mereka adalah pada kehendaknya. Seseorang mengenali ketidakadilan penyaliban Kristus dan meminta untuk diampuni; dan yang lain menghina dan menghujat Tuhan kita. Pencuri yang baik menerima keadilan dari situasinya dan dihadiahi pada hari itu.

Setiap orang memiliki salib yang harus dibawa, dan ketika ia membawanya kita disempurnakan di mata Allah. Kita tidak seharusnya memikirkan penderitaan kita sebagai hukuman karena hal ini diberikan kepada kita untuk sebuah alasan. Bahkan Maria, yang diciptakan bebas dari dosa asal, mengalami penderitaan terbesar. Tragedi di dunia ini bukan berarti ada penderitaan, tapi bahwa penderitaan sering disia-siakan.

Bila kita menerima salib unik yang kita bawa maka kita akan diperlakukan seperti orang-orang kerajaan di surga. Pencuri yang baik hanya menemukan keselamatannya karena ia berada di kayu salib. Alasan mengapa kita cenderung menjadi kristen yang biasa-biasa saja adalah karena kita menolak Allah menggunakan kita dengan cara yang Ia perlukan. Ketika Perawan Maria mendengar suara malaikat agung Gabriel, ia tidak bertanya apa yang harus dilakukan; ia berkata ia akan mengijinkan Allah melakukan apa yang Allah perlu lakukan. Kita juga harus seperti tanah liat yang berada dalam tangan seorang seniman. Fulton Sheen berkata bahwa kehidupan kita terdiri dari dua hal : kewajiban aktif dan situasi pasif. Yang pertama berada dalam kendali kita dan harus dilakukan dalam nama Allah. Kita tidak dijadikan sempurna dengan mengetahui kehendak Allah, tapi oleh tunduk kepada kehendak-Nya.


“Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27)

Ketika seseorang berkata kepadamu, “Kamu memiliki kehidupanmu sendiri”, ingatlah bahwa kamu hidup dengan orang lain di sisimu. Sebagai seorang kristen, kasih terhadap sesama tidak terpisahkan dari kasih kepada Allah. Nilai sebuah hubungan ditunjukkan dalam perkataan Yesus yang ketiga. Tragedi penderitaan menyatukan keluarga Kristus seperti tragedi yang berlanjut untuk menyatukan orang-orang sekarang ini. Selagi Tuhan kita berada di salib Ia menyatukan ibu-Nya dengan semua orang kristen.

Dengan menyebut Ibu-Nya dengan “wanita” Ia membedakan ibu-Nya dari sekedar menjadi Ibu-Nya sendiri dan memberikan ia kepada kita semua. Malam sebelumnya, Tuhan kita menghendaki tubuh-Nya diberikan kepada kita pada Perjamuan Terakhir. Di kaki salib Ia menghendaki Ibu-Nya diberikan pada kita juga. Selama 33 tahun Maria melihat Allah dalam Kristus dan sejak saat ini ia melihat Kristus dalam semua orang kristen. Dan seperti ibu yang melahirkan seorang anak, ia menjadi ibu kemuanusiaan dalam penderitaan dan kesakitan. Ini bukan tindakan yang merugikan kepada Kristus untuk menghormati Ibu-Nya. Seperti Kristus yang dibentuk oleh Ibu-Nya, jadi kita juga harus dibentuk olehnya. Hanya ia yang membesarkan Kristus bisa membesarkan seorang Kristen.

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34)

Budaya kita sekarang diserbu dengan meningkatnya masalah adiksi/kecanduan. Sejumlah orang berjuang dengan alkoholisme, pornografi dan kekerasan. Ada banyak penderitaan dunia dalam keputusasaan. Perasaan diabaikan dapat kita ucapkan sama seperti kata-kata Tuhan di salib, tapi perkataan-Nya memiliki makna yang berbeda. Perkataan keempat Tuhan kita datang dari baris pertama Mazmur 21. Inilah mazmur yang mengatakan,”mereka dapat menghitung semua tulangku dan dan mereka membuang undi atas jubahku”. Bagian pertama dari mazmur ini adalah tentang penderitaan, dan bagian selanjutnya adalah tentang pengharapan. Mazmur ini berakhir dengan pengakuan bahwa apapun yang terjadi, kita diyakinkan akan kemenangan terhada musuh-musuh kita.

Tidak ada waktu yang lebih gelap bagi Yesus selain Penyaliban-Nya, namun Ia mempercayai Bapa-Nya meskipun akan terlihat bertentangan bahwa hal-hal akan berakhir dengan baik. Ia tidak diabaikan atau dilupakan tapi Ia harus menderita sebelum mengklaim hadiah-Nya. Sama seperti tidak ada pesta tanpa persiapan dan tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan, tidak akan dada makam kosong tanpa salib. Bagi pribadi yang memiliki pengharapan, tidak ada tantangan yang tidak bisa diatasi. Bagi pribadi yang putus asa, hanya ada kegelapan. Kita harus berdoa dalam keyakinan bahwa setiap doa kita akan dijawab, bahkan ketika jawabannya adalah tidak, kita harus ingat bahwa jawaban itu berasal dari kasih Bapa.

“Aku haus!” (Yoh 19:28)

Perkataan Kristus yang kelima menggemakan Yesaya 55 : 1, “Datanglah, kamu semua yang haus.” Apakah kita mengakuinya atau tidak, setiap orang memiliki rasa haus akan Allah. Setiap orang menginginkan sesuatu yang lebih dalam dan mencari yang lebih tinggi. Selagi Tuhan juga berada di kayu salib, Ia berkata bahwa hal tersebut bekerja dengan dua cara. Allah juga berada dalam perjalanan mencari jiwa-jiwa kita : Ia adalah Pencari Jiwa dari surga. Kita cenderung menginginkan Allah, tapi kita menginginkan bukti sebelum kita percaya kepada Allah yang tampaknya jauh dari kita. Kita gagal menyadari bahwa kitalah yang memberi jarak kepada Allah dan bukan Ia yang tetap menjauh dari kita, karena Ia mencari kita seperti gembala yang mencari domba yang hilang.

Ada banyak orang yang membenci Allah dan Gereja-Nya yang tampaknya tidak bisa memisahkan diri dari pengaruhnya. Orang-orang ini harus didoakan karena mereka seperti St. Paulus yang belum bertobat. Mereka dapat melakukan kejahatan yang besar tapi penolakan mereka untuk mengabaikan Allah bisa menjadi sumber kembalinya mereka kepada Allah. Meskipun mereka memberi alasan untuk membenci Gereja, merekalah yang paling mungkin menyadari bahwa masalahnya sungguh ada dalam diri mereka dan tidak ada hubungannya dengan Allah. Kesadaran akan dosa mereka menciptakan kekosongan yang hanya bisa diisi oleh rahmat. Allah haus bagi jiwa-jiwa bahkan pendosa yang terburuk, dan sementara tidak ada satupun yang pantas mendapatkan Allah, setiap orang bisa menerima-Nya.

“Sudah selesai” (Yoh 19:30)

Ekspresi yang digunakan Tuhan kita bisa ditemukan dalam tiga tempat di Kitab Suci. Pertama ditemukan dalam Kejadian setelah penciptaan, kedua dalam pewahyuan di akhir zaman, dan ketiga dietmukan disini ketika Ia berada di salib. Maksudnya adalah apa yang telah dilakukan sekarang disempurnakan dan bagi Kristus ini menandai berakhirnya waktu-Nya. Selama pernikahan di Kana Yesus menyebutkan waktu-Nya. Ia memberitahu ibu-Nya bahwa waktu-Nya belum tiba; belum waktunya untuk memulai misi-Nya. Karena waktu-Nya, yang berakhir selama tiga tahun, akan menjadi waktu penyangkalan diri, penderitaan dan kematian. Bagi kita juga sama.

Banyak orang frustrasi dalam kehidupan mereka karena mereka telah menolak salib. Bukannya mengejar ketidakterikatan dalam kehidupan mereka, mereka memenuhi hidupnya dengan benda-benda duniawi. Bukannya menemui misteri agama, mereka menemui misteri pembunuhan di televisi. Mereka mengkritik orang-orang dan agama untuk alasan yang mereka rendahkan sendiri. Mereka penuh dengan dirinya sendiri, namun dikalahkan karena persepsi-diri tidak bisa ada tanpa penyangkalan-diri. Kita harus menggunakan secara aktif “waktu” kita untuk memperbaiki kehidupan kita sebagai orang kristen bila kita berharap menemukan kebahagiaan. Hanya dalam menyerahkan diri kepada Kristus kita bisa menerima rahmat-Nya.


“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46)

Tuhan kita mengucapkan kata terakhir ini dengan suara yang besar, karena Ia akan menemui ajal-Nya. Bukannya menunggu kematian untuk menjemput-Nya, Ia menggunakan kebebasan-Nya yang sempurna dan memilih untuk mati. Ada dua jenis kebebasan. Ada kebebasan dari sesuatu dan kebebasan utnuk sesuatu. Seseorang lebih menyukai kebebasan jenis pertama karena lebih mudah dilakukan. Kebebasan dari sayuran, kebebasan dari penindasan. Kebebasan jenis kedua lebih sulit karena mengimplikasikan tanggung jawab yang sering menjadi beban. Kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk berubah. Untuk memahami hakekat tertinggi dari jenis kebebasan ini kita harus melihat Kristus di salib.

Hanya ada tiga hal yang bisa kita lakukan dengan kebebasan kita. Kita bisa mengarahkannya dengan egois kepada diri kita, kita bisa memisahkannya diantara ribuan hal yang tidak penting, atau kita bisa menyerahkannya kepada Allah. Pilihan pertama adalah pilihan yang paling merusak karena ketika kita percaya kita bebas untuk bertindak buruk seperti yang kita pilih, kita menjadi budak dari kecanduan kita. Seperti yang dikatakan Fulton Sheen, “kebebasan yang tak terikat menuntun pada tirani yang tak terikat”. Kebebasan yang tidak terkendali akan selalu menuntun seseorang pada perbudakan. Alternatif kedua bisa ditemukan dalam diri orang yang tidak memiliki arah tujuan. Keinginan mereka berubah tanpa ada perubahan batin dalam jiwa, dan mereka tidak sanggup memilih diantara banyak ketertarikan dan godaan dalam hidup. Tapi ada harapan karena ada pencarian. Mereka yang merasa hampa bisa dipenuhi, tapi orang-orang yang dimabukkan oleh ego mereka tidak memiliki ruang bagi Allah.

Pilihan terakhir adalah menyerahkan diri anda kepada Allah dan kehendak-Nya. Hanya ketika andamenggantikan “aku” anda bisa menemukan kebebasan yang sempurna yang Kristus miliki selagi Ia menghembuskan nafas terakhir-Nya. Ini adalah Kurban pemberian-diri Nya yang memungkinkan Kebangkitan.

Sejarah Gpdi

Selayang pandang GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA

Berdirinya Gereja Pantekosta di Indonesia tidak terlepas dari kedatangan dua keluarga missionaris dari Gereja Bethel Temple Seattle, USA ke Indonesia pada tahun 1921 yaitu Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika. Dari Bali maka pelayanan beralih ke Surabaya di pulau Jawa tahun 1922, kemudian ke kota minyak Cepu pada tahun 1923. Di kota inilah F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus disertai/disusul banyak putera – puteri Indonesia lainnya antara lain : H.N. Runkat, J. Repi, A. Tambuwun, J. Lumenta, E. Lesnusa, G.A Yokom, R.Mangindaan, W. Mamahit, S.I.P Lumoindong dan A.E. Siwi yang kemudian menjadi pionir-pionir pergerakan Pantekosta di seluruh Indonesia.

Karena kemajuan yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah. Dan oleh kuasa Roh Kudus serta semangat pelayanan yang tinggi, maka jemaat-jemaat baru mulai bertumbuh dimana-mana.

Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523, dengan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”. Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda itu diubah menjadi “Gereja Pantekosta di Indonesia”. Ketika itu Ketua Badan Pengoeroes Oemoem ( Majelis Pusat) adalah Pdt. H.N Runkat.

Selain perkembangan perlu juga dicatat beberapa perpecahan yang kemudian melahirkan gereja-gereja baru dimana para pendirinya berasal dari orang-orang GPdI antara lain : Pdt. Ho Liong Seng (DR.H.L Senduk) pendiri gereja GBI yang bersama Pdt. Van Gessel pada tahun 1950 berpisah dengan GPdI dan mendirikan GBIS, Pdt. Ishak Lew pada tahun 1959 keluar dan mendirikan GPPS, sebelumnya pada tahun 1936 Missionaris R.M. Devin dan R. Busby keluar dan membentuk Assemblies of God, tahun 1946 Pdt. Tan Hok Tjoan berpisah dan membentuk Gereja Isa Almasih dan lain-lain sebagainya.

Peranan para pioner pun patut dikenang, sebab karena perjuangan mereka pohon GPdI telah bertumbuh dengan lebat, mereka antara lain : Pdt. H.N. Runkat yang merambah ladang di Pulau Jawa, (Jakarta, Jabar, Jateng, dll), tahun 1929 Pdt. Yulianus Repi dan Pdt. A. Tambuwun disusul oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. Lumenta, Pdt. Runtuwailan menggempur Sulawesi Utara, tahun 1939, dari Sulut / Ternante Pdt. E. Lesnussa ke Makasar dan sekitarnya. Tahun 1926 Pdt. Nanlohy menjangkau kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey, dll.

Tahun 1928 Pdt. S.I.P Lumoindong ke D.I Yogyakarta tahun 1933 Pdt. A.E. Siwi menabur ke pulau Sumatera (Sumsel, Lampung, Sumbar dan kemudian tahun 1939 ke Sumut), tahun 1932 Pdt. RM Soeprapto mulai membantu pelayanan di Blitar kemudian Singosari dsk, tahun 1937 ke Sitiarjo Malang Selatan. Tahun 1935 Pdt. Siloey dkk, merintis pelayanan ke Kupang NTT, tahun 1930 Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattyradjawane dan A.F Wessel ke Kalimantan Timur. Tahun 1940 Pdt. JMP Batubara menebas ladang Kalimantan Barat (Pontianak), Pdt. Yonathan Itar pelopor Injil Pantekosta di Irian Jaya, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Oleh pengorbanan mereka GPdI bertumbuh dengan pesat.

Struktur Organisasi GPdI

Forum Tertinggi dalam forum GPdI ialah Musyawarah Besar yang diadakan 5 tahun sekali. Selain menetapkan Garis Besar Program Kerja (GBPK), Mubes juga berfungsi memilih Pimpinan Tingkat Nasional GPdI yang disebut Majelis Pusat. Majelis Pusat sekarang beranggotakan sebanyak-banyaknya 24 orang yaitu Seorang Ketua Umum, beberapa orang Ketua, Seorang Sekretaris Umum, beberapa orang Sekretaris, seorang Bendahara Umum, beberapa orang Bendahara, dan yang lainnya memimpin departemen-departemen, yaitu : Departemen Penginjilan, Penggembalaan, Pendidikan & Pengajaran, Organisasi, Pertumbuhan Gereja, Diakonia, Pembangunan

Kemudian Majelis Pusat mengangkat pengurus-pengurus wadah tingkat nasional yang disebut Komisi Pusat berjumlah 9 buah yaitu : Pelayanan Anak Pantekosta (PELNAP), Pelayanan Remaja Pantekosta (PELRAP), Pelayanan Pemuda Pantekosta (PELPAP), Pelayanan Wanita Pantekosta (PELWAP), Pelayanan Pria Pantekosta (PELPRIP), Pelayanan Profesi & Usahawan Pantekosta (PELPRUP), Pelayanan Anak Anak Hamba Tuhan (PELAHT), Pelayanan Mahasiswa Pantekosta (PELMAP), Komisi Penginjilan Pantekosta Pusat.

Setelah Mubes diadakan, maka setiap daerah mengadakan Musyawarah Daerah (Musda) yang tujuannya antara lain memilih pimpinan tingkat daerah yang disebut Majelis Daerah. GPdI kini memiliki 32 Majelis Daerah ,dalam dan luar negeri, sebagai berikut : MD Sumut-NAD, MD Sumbar, MD Riau, MD Kepri, MD Jambi, MD Sumsel, MD Bengkulu, MD Bangka-Belitung, MD Lampung, MD Banten, MD Jakarta, MD Jawa Barat, MD Jawa Tengah, MD Yogyakarta, MD Jawa Timur, MD Bali/NTB, MD NTT, MD Kalbar, MD Kalteng, MD Kaltim, MD Kalsel, MD Sulselbar, MD Sultra, MD Sulteng, MD Sulut, MD Gorontalo, MD Maluku Utara, MD Maluku, MD Papua, MD Australia, MD West Coast USA, MD East Coast USA.

Setelah terpilih maka setiap MD juga menetapkan pengurus wadah-wadah tingkat daerah sesuai kebutuhan yang disebut Komisi Daerah. Selain itu MD juga menetapkan Majelis-Majelis Wilayah sesuai kebutuhan, dan Majelis Wilayah pun akan menetapkan pengurus wadah di tingkat wilayah yang disebut Komisi Wilayah. Setiap Majelis Wilayah membawahi gembala-gembala yang menjadi basis utama pelayanan GPdI, dan setiap gembala mengangkat pengurus wadah tingkat sidang jemaat.

Mekanisme Kependetaan

Waktu yang ideal bagi seseorang untuk mencapai gelar Pendeta penuh di GPdI, rata-rata berkisar antara 10 tahun (dihitung sejak mulai fulltime dalam pelayanan). Perjalanan panjang yang harus ditempuh tersebut umumnya sebagai berikut : diawali dengan TC (Training Center) di sebuah pastori minimal 1 tahun, lalu masuk Sekolah Alkitab kelas.1 selama 1 tahun – setelah itu ditempatkan praktek pelayanan sebagai ‘pengerja’ minimal 1 tahun, lalu masuk Sekolah Alkitab kelas.2 selama 1 tahun, lalu mulai merintis sidang baru dengan waktu yang sangat relative minimal 1 tahun lagi. Bila sudah memiliki pelayanan yang stabil dan rutin, akan ditetapkan oleh MD menjadi gembala jemaat dengan gelar Pdp (Pendeta Pembantu), dan bila pelayanannya berkembang 2 tahun kemudian akan memperoleh gelar Pdm (Pendeta Muda). Dan jika Majelis Daerah merekomendasikan lagi, maka 2 tahun kemudian yang bersangkutan dapat dilantik sebagai Pendeta Penuh (Pdt).

Statistik

Berdasarkan data Mubes 2007 jumlah Sidang Jemaat GPdI sampai dengan saat ini (2007) adalah :12.000 jemaat GPdI di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Kronologi Kepemimpinan sejak 1921 – 2007

Maret 1921 – 19 Juni 1923

Injil Pantekosta masuk ke Indonesia, oleh :

Missionary Richard van Klaveren & Cornelius E. Groesbeek



19 Maret 1923 : didirikan Vereeninging “DePinkstergemeente in Nederlasch” berkedudukan di Bandung dengan susunan Pengurus :

Ketua : Pdt. DHW. Weenink Van Loon

Sekretaris : Pdt. Paulus

Bendahara : Pdt. G. Droop

Dengan Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda, tertanggal Cipanas, 4 Juni 1924 No.29 kepada Vereeninging tersebut diberi hak / pengakuan sebagai Badan Hukum

Disamping Pengurus di atas yang bertanggung jawab terhadap pemerintah, maka diadakan suatu Convent Hamba-hamba Tuhan senior, yang terdiri dari :

Pdt. FG.Van Giseel

Pdt. Weening Van Loon

Pdt. F. Van Abkoude

Pdt. D. Van Klaveren & isterti

Pdt. H. Horstman

Pdt. MA. Alt

Tahun 1942 – 1947. dengan pecahnya Perang Dunia ke-2 pimpinan diserahkan kepada putera-putera Indonesia dan pimpinan Gereja disebut Badan Pengoeroes Oemoem (BPO) dengan susunan personalia sebagai berikut :

Pdt. HN Runkat (Ketua) - Jakarta

Pdt. SIP Lumoindong - Semarang

Pdt. RM Soeprapto - Malang

Pdt. R.O Mangindaan - Mojokerto

Pdt. Liem Bian Hok - Tulungagung

Pdt. L. Nanlohy - Lumajang

Tahun 1947 – 1949. Dalam Musyawarah Nasional ke-14 di Solo terbentuk BPO sebagai berikut :

Pdt. HN. Runkat (ketua) - Jakarta

Pdt. RM. Soeprapto - Malang

Pdt. SIP. Lumoindong - Semarang

Pdt. R.O Mangindaan - Mojokerto

Pdt. J. Syaranamual - Jakarta

Tahun 1949 -1951. Daam Musyawarah Nasional ke 15 di Jakarta BPO menjadi BPU terdiri :

Pdt. HN. Runkat (ketua) - Jakarta

Pdt. RM. Soeprapto - Malang

Pdt. SIP. Lumoindong - Semarang

Pdt. R.O Mangindaan - Mojokerto

Pdt. E. Lesnussa - Ujung Pandang

Tahun 1951 – 1953. Dalam Musyawarah Nasional ke 16 di Malang, terbentuk Majelis Agung yang terdiri 24 orang dan Pengurus Hariannya adalah Pengurus Pusat :

Pdt. HN Runkat (Ketua) - Jakarta

Pdt. RM Soeprapto - Malang

Pdt. SIP Lumoindong - Semarang

Tahun 1953-1957. Dalam Musyawarah Nasional ke 17 di Langoan (Sulawesi Utara) Pengurus Pusat terpilih adalah:

Pdt. HN Runkat (Ketua) - Jakarta

Pdt. RM Soeprapto - Malang

Pdt. SIP Lumoindong - Semarang

Tahun 1957-1961. Musyawarah Nasional ke 18 di Malang telah membentuk Pengurus Pusat baru sesudah meninggalnya Pdt. HN. Runkat, dengan susunan sebagai berikut :

Ketua : Pdt. E. Lesnussa

Wakil Ketua : Pdt. RM. Suprapto

Sekjen : Pdt. SIP Lumindong

Bendahara : Pdt. Kwee Hok To

Komisaris I. : Pdt. WW. Kastanya

Komisaris II : Pdt. LA Pandelaki

Komisaris III : Pdt. The Kiem Koei

Tahun 1961-1965. Musyawarah Nasional ke 19 di Bandung, menhasilkan susunan Pengurus Pusat :

Ketua : Pdt. E. Lesnussa

Wakil Ketua : Pdt. RM. Suprapto

Sekjen : Pdt. SIP Lumindong

Bendahara : Pdt. Kwee Hok To

Komisaris I. : Pdt. WW. Kastanya

Komisaris II : Pdt. LA Pandelaki

Komisaris III : Pdt. The Kiem Koei

Tahun 1965-1969. Musyawarah Besar ke-20 di Yogyakarta telah menetapkan Pengurus Pusat sebagai berikut :

Komisaris II : Pdt. WW Kastanya

Ketua : Pdt. E. Lesnussa

Bendahara : Pdt. H. Kristianto

Wakil Ketua : Pdt. LA. Pandelaki

Sekjen : Pdt. RG. Sutrisno

Komisaris I : Pdt. WH. Bolang

Komisaris III : Pdt. JMP Batubara

Tahun 1969-1973. Mubes ke.21 di Surabaya memilih pengurus Pusat sebagai berikut :

Ketua : Pdt. E. Lesnussa

Wakil Ketua : Pdt. LA. Pandelaki

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. H. Kristianto

Komisaris I. : Pdt. WH Bolang

Komisaris II : Pdt. JMP Batubara

Komisaris III : Pdt. RM. Suprapto

Penasehat : Pdt. R. Gideon Sutrisno

Pada tanggal 8 November 1969 komposisi Pengurus Pusat berubah setelah meninggalnya Pdt. RM. Soeprapto :

Ketua : Pdt. E. Lesnussa

Wakil Ketua : Pdt. LA. Pandelaki

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. H. Kristianto

Komisaris I. : Pdt. WH. Bolang

Komisaris II : Pdt. JMP. Batubara

Komisaris III : Pdt. B. Manoah

Penasehat : Pdt. R. Gideon Sutrisno

Kemudian tanggal 8 Agustus 1970 dengan meninggalnya Pdt. E. Lesnussa maka terjadi perubahan susuanan Pengurus Pusat :

Ketua : Pdt. LA. Pandelaki

Wakil Ketua : Pdt. WH. Bolang

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. H. Kristianto

Komisaris I. : Pdt. JMP. Batubara

Komisaris II : Pdt. B. Manoah

Penasehat : Pdt. R. Gideon Sutrisno

Tanggal 8 Februari 1973 terjadi lagi perubahan susuanan Pengurus Pusat :

Ketua : Pdt. WH. Bolang

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. H. Kristianto

Komisaris I. : Pdt. JMP Batubara

Komisaris II. : Pdt. B. Manoah

Penasehat : Pdt. R. Gideon Sutrisno

Tahun 1973-1976, Mubes ke-22 di Batu menghasilkan Pengurus sebagai berikut :

Ketua : Pdt. WH. Bolang

Wakil Ketua : Pdt. Gideon Sutrisno

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. MF. Da Costa

Komisaris I. : Pdt. JMP. Batubara

Komisaris II : Pdt. TH. Itaar

Penasehat : Pdt. S. Sriyoto

Tahun 1976-1980, Mubes ke-23 menghasilkan pengurus sbb :

Ketua : Pdt. WH. Bolang

Wakil Ketua : Pdt. Gideon Sutrisno

Sekjen : Pdt. AH. Mandey

Bendahara : Pdt. MF. Da Costa

Komisaris I. : Pdt. JMP. Batubara

Komisaris II : Pdt. S. Sriyoto

Penasehat : Pdt. LA. Pandelaki

Tahun 1980-1984, Mubes ke-24 di Jakarta, menghasilkan pengurus sbb :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. R.G Sutrisno

Ketua II : Pdt. J.M.P. Batubara

Sekjen : Pdt. E.N. Soriton

Wakil Sekjen : Pdt. S. Soriyoto

Bendahara : Pdt. M.F. Da Costa

Departemen-departemen :

Kerohanian : Pdt. J. Rompas

Organisasi : H.E. Karundeng

Kesejahteraan : Pdt. J.K Siwi

Tahun 1984-1988, Mubes ke-25 di Jakarta, menghasilkan pengurus sbb :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. J.M.P. Batubara

Ketua II : Pdt. E.N. Soriton

Sekretaris Umum : Pdt. J.K. Siwi

Wakil Sekretaris Umum : Pdt. M.D Wakkary

Bendahara : Pdt. M.F. Da CostaWakil

Bendahara : Pdt. H.O.H Awuy

Departemen-departemen :

Penginjilan : Pdt. D.A. Supit

Pemb. Warga Jemaat : Pdt. S. Sriyoto

Pendidikan & Latihan : Pdt. Th. Karuniadjaja

Organisasi & Komunikasi : Pdt. W.J. Bangguna

Tahun 1988-1991, Mubes ke-26 menghasilkan pengurus sbb :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. E.N. Soriton

Ketua II : Pdt. J.M.P Batubara

Wakil Bendahara : Pdt. J.K Siwi

Sekretaris Umum : Pdt. M.D. Wakkary

Wakil Sekretaris Umum : Pdt. H.O.H Awuy

Bendahara : Pdt. M.F. Da Costa

Departemen-departemen

Pengembalaan : Pdt. S. Sriyoto

Penginjilan : Pdt. Y.R. Marey

Pendidikan : Pdt. TH. Karuniadjaja

Pel. Warga Jemaat : Pdt. W.J Bangguna

Organisasi & Humas : Pdt. R.T. Kastanya

Penatalayanan & Dana : Pdt. M.Ph. Bolang

Hubungan Luar Negeri : Pdt. D.A. Supit

Tahun 1991-1995, Mubes ke-27 di Batu :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. E.N. Soriton

Ketua II : Pdt. M.F. Da Cost

Sekretaris Umum : Pdt. M.D. Wakkary

Sekretaris I : Pdt. R.T. Kastanya

Sekretaris II : Pdt. Soemaryanti

Bendahara Umum : Pdt. Y.K Siwi

Bendahara I : Pdt. H.O.H Awuy

Dep. Pengembalaan : Pdt. D.A. Supit

Dep. Penginjilan : Pdt. M.Ph. Bolang

Dep. Pel. Warga Jemaat : Pdt. W.J. Banggunan

Dep. Organisasi & Hub. K : Pdt. John Rompas

Dep. Diakonia Pemb. : Pdt. E. Kurniawan

Dep. Pendidikan & Lat : Pdt. Th. Karuniajaya

Dep. Literatur & Media M : Pdt. J.F. Lontoh

Dep. Luar Negeri : Pdt. M.D. Wakkary

Tahun 1993: Dengan dipanggil pulangnya Pdt. E.N. Soriton ke Rumah Bapa di Surga maka komposisi Majelis Pusat mengalami perubahan sbb:

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. DR. M.D. Wakkary

Ketua II : Pdt. M.F. Da Costa

Sekretaris Umum : Pdt. R. Tim. Kastanya

Sekretaris I : Pdt. Soemaryanto

Bendahara Umum : Pdt. Y.K. Siwi

Bendahara I : Pdt. H.O.H. Awuy

Susunan departeman tetap sama tidak ada perubahan.

Tahun 1995-2000, Mubes ke-28 di Batu:

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. DR. M.D. Wakkary

Ketua II : Pdt. M.F. Da Costa

Sekretaris Umum : Pdt. R.Tim Kastanya

Sekretaris I : Pdt. Soemaryanto

Sekretaris II : Pdt. DR. W.D. Saerang

Bendahara Umum : Pdt. Y.K. Siwi

Bendahara I : Pdt. H.O.H Awuy

Departemen-departemen :

Dep. Pengembalaan & PG : Pdt. DR. D.A. Supit

Dep. Penginjilan & PM : Pdt. C.C.E. Rombot

Dep. Pendidikan & Latihan : Pdt. DR. L. Lapian

Dep. Pel. Warga Jemaat : Pdt. DR. W.J. Bangguna

Dep. Hub. Luar & Kelembagaan : Pdt. DR. F. Patiradjawane

Dep. Diakonia & Pemb. : Pdt. E. Kurniawan

Dep. Media & Liberatur : Pdt. D. Roemokoij M.Min

Dep. Urs. Peranan Wanita : Pdt. Ibu M.M Mandey

Dep. Urs. Kepemudaan : Pdt. H. Runtukahu



Tahun 2000-2004, Mubes ke-29 tahun 2000 di Istora Senayan Jakarta :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua : Pdt. DR. M.D. Wakkary

Ketua : Pdt. H.O.H. Awuy

Ketua : Pdt. Y.K. Siwi

Ketua : Pdt. R. Tim Kastanya

Sekretaris Umum : Pdt. DR. W.D. Saerang

Sekretaris : Pdt. Soemaryanto

Sekretaris : Pdt. DR. F. Patiradjawane

Sekretaris : Pdt. F. Assa

Bendahara Umum : Pdt. DR. John Weol

Bendahara : Pdt. E. Kurniawan

Bendahara : Pdt. Dolfy Memah

Departemen-departemen :

Dep. Penginjilan : Pdt. M.Ph. Bolang

Dep. Pengembalaan : Pdt. Victor Malino

Dep. Pend & Pengajaran : Pdt. DR. L. Lapian

Dep. Pengorganisasian : Pdt. John Rompas

Dep. Diakonia, Sosial & Pemb. : Pdt. Yusak Setioputro

Dep. Pelayanan Wanita : Pdt. Ibu. M.M. Mandey

Dep. Pelayanan Anak-anak : Pdt. Thoms Dato

Dep. Pelayanan Pemuda : Pdt. Hendrik Runtukahu

Dep. Pelayanan Kaum Pria : Pdt. DR. W.J. Bangguna

Dep. Pengembangan Jemaat & LN : Pdt. DR. D.A. Supit

Dep. Hubungan External : Pdt. Yesayas Tobing

Dep. Liberatur & Media Massa : Pdt. D. Roemokoij, M.Mi

Tahun 2003-2007, Mubes ke-30 di Bali :

Ketua Umum : Pdt. A.H. Mandey

Ketua I : Pdt. DR. M.D. Wakkary

Ketua II : Pdt. DR. Jhonny Weol

Sekretaris Umum : Pdt. DR. W.D. Saerang

Sekretaris I : Pdt. DR. F. Pattirajawane

Sekretaris II : Pdt. H.S. Gultom

Bendahara : Pdt. Hendrik Runtukahu

Bendahara I : Pdt. D.G. Memah

Bendahara II : Pdt. Thomas Dato

Departemen-departemen :

Dep. Pengembalaan & PWJ : Pdt. R.T. Kastanya

Dep. Pengembalaan & PWJ : Pdt. Y.K. Siwi

Dep. Pengembalaan & PWJ : Pdt. Frans Z. Assa

Dep. Penginjilan, PG & PLB : Pdt. M.PH. Bolang

Dep. Penginjilan, PG & PLB : Pdt. DA. Supit

Dep. Penginjilan, PG & PLB : Pdt. DR. J.O. Wotulo

Dep. Pengajaran & Pendidikan : Pdt. DR. Lefran Lapian

Dep. Pengajaran & Pendidikan : Pdt. J.S. Minandar

Dep. Pengajaran & Pendidikan : Pdt. Drs Max Turangan

Dep. Diakonia Kesejahteraan & PM : Pdt. E. Kurniawan

Dep. Diakonia Kesejahteraan & PM : Pdt. Arnold R. Bolung

Dep. Diakonia Kesejahteraan & PM : Pdt. Johanes E. Bale

Friday, 6 April 2012

WARTA JEMAAT

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,
“Betul, Dia yang menciptakan semuanya”

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.


Profesor itu menjawab,

“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.


Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor


Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,

“Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.


Mahasiswa itu menjawab,

“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan,

“Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab,
“Tentu saja gelap itu ada.”


Mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.”

“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”

“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”


Akhirnya mahasiswa itu bertanya,

“Profesor, apakah kejahatan itu ada?”


Dengan bimbang professor itu menjawab,

“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”


Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.”

“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.


Guyz..
Seringkali kita memutarbalikan apa yg sudah ada dan sudah Tuhan rancang untuk hidup kita.. Namun ingat! Tidak sekalipun Tuhan menyalahkan kita... Jadi, berfikirlah dengan jernih untuk apa yg sudah Tuhan buat dalam hidup kita.. Kasih karunia Tuhan, tidak akan pernah habis dimakan oleh waktu :)
Renugkan, lakukan dan berubahlah oleh karena pembaharuan..
Tuhan Yesus meneberkati

Monday, 27 February 2012